filosofi sebuah telur
Filosofi telur
PAK Zubaedi -guru Agama SMP saya dulu- mendapat sebuah kado pernikahan yang lumayan unik dan aneh. Diantara tumpukan kado lainnya, ternyata ada satu kado yang memberikan banyak pelajaran bagi beliau yang waktu itu baru saja melangsungkan pernikahan. Untung tidak pecah katanya. Kalo kata saya, untung isi kado tersebut tidak menetas.
Beliau lalu menceritakan pesan dan filosofi yang terkandung dalam kado tersebut, yang ternyata berisi berbagai macam telur.
Telur pertama adalah telur angsa. Kalo sudah pernah lihat, telurnya guedhe banget. Pesan yang terkandung yakni jangan menjadi manusia seperti angsa karena angsa seringkali mematok telurnya sendiri hanya karena alasan lapar, lalu dimakan. Burung puyuh juga sering melakukan hal sama. Makanya saat sudah bertelur, induk betina langsung dipisahkan dengan telurnya. Telur lalu dimasak dan bisa didapatkan di angkringan-angkringan terdekat.
Telur kedua yaitu telur bebek. Dalam satu gerombolan bebek, biasanya jumlah pejantan lebih sedikit dari betinanya. Okey… Lalu demi hasrat dan nafsu yang telah lama menggebu maka satu pejantan tadi akan membuahi banyak bebek betina. Poligami? Lalu ketika sudah bertelur, maka telur-telur itu akan ditinggalkan begitu saja oleh bebek betina. Walah ndak okey ini. Tapi banyak juga kan manusia yang meniru sikap bebek ini?
Selanjutnya telur ayam. Hewan ini mungkin merupakan tipe hewan single parent. Lha ya gimana nggak, setelah puas berbabibu, ayam jagonya pergi begitu saja. Untuk selanjutnya ayam betinanya saja yang mengerami telur-telur tersebut hingga menetas dan mengasuhnya sejak kecil. Ck…ck…
Telur terakhir yaitu telur burung merpati. Hewan ini termasuk hewan yang kompak. Nggak yang jantan maupun betina, semua bergantian untuk mengerami telur dan mencari makanan. Saat merpati jantan sedang mengerami telur, maka merpati betina bertugas mencari makanan dan juga sebaliknya. Mantab.
Pokoknya merpati nggak pernah ingkar janji
Tinggal kita saja yang menentukan mau menjadi seperti apa, bebek atau merpati?
Lambang Burung Merpati yang berwarna putih melambangkan perdamaian dan kesempurnaan.
Pengertian Hening menunjukkan suatu sikap atau tindakan yang sudah dapat memadukan, menyatukan antara cipta 7 rasa dan karsa.. Pada tahap atau keadaaan Hening ini, watak/perilaku sudah tidak rnenghiraukan lagi apa yang dirasakan serta dihayati oleh panca indera (dalam pengertian gejala-gejala), kecuali merasakan tekad/kehendaknya saja yang didasarkan atas tindakan spiritual-religius yang mendalam.
on July 7th, 2009 at 9:41 am
SEPERTI BEBEK AJA AH