tari sema rumi
come,come whoever you are wonderer, idolater, fire worshiper, lover of leaving it doesn’t matter ours is not caravan of despair come, even you have broken your vow thousands time, comeyet again, come.. ( Mevlana Rumi )
Adab-Adab Dalam Tari Sema
Bagian Pertama Para penari Darwis mengenakan topi panjang Sikke yang melambangkan pusara atau batu nisan bagi egonya. Jubah putih atau disebut Tennure adalah kain kafan yang melepaskan tabir ego dari Jubah Hitam (Hirka) yang menyelimuti spiritualitasnya dalam mencapai kebenaran. Saat bersiap dan dalam gerakan berhenti, para penari memeluk dan menyilangkan tangannya, hal ini menggambarkan keesaan dan kesatuan Tuhan. Saat berputar tangannya direntangkan, tangan kanan menghadap ke atas besiap menerima kemurahan Tuhan. Tangan kirinya menghadap ke bawah beralih dari kanan ke kiri melalui jantung hidupnya. Hal ini menunjukkan bagaimana meneruskan nikmat spiritual dari Tuhan kepad manusia lain melalui ‘mata Tuhan”. Berputar dengan poros jantung dari kanan ke kiri, sang darwis memeluk seluruh umat manusia dan ciptaan dengan kasih sayang dan cinta. Ritual dimulai dengan sebuah eulogi “Nat-I Sarif” kepada Nabi, sebagai perwakilan cinta, dan nabi-nabi sebelum beliau. Memuji mereka berarti memuji Tuhan yang telah menciptakan mereka. Bagian Kedua Bagian kedua adalah suara genderang sebagai symbol perintah Tuhan pada makhlukNya. “Jadi, maka jadilah”, “Kun fa ya Kun” Bagian Ketiga Bagian ketiga adalah tambahan instrument “taksim” yang seakan berkata melalui “ney” seruling panjang khas pemusik rumi. Ini menunjukkan “Hembusan Nafas Kehidupan” pada semua mahluk. Itulah tiupan keTuhanan. Bagian Keempat Bagian keempat yaitu sambutan salam sesama darwis dan kondisi larut dalam putaran “Devr-i Veled” yang diiringi musik “peshrev”. Bagian ini menyimbolkan salut dan salam antar jiwa yang lepas dari keterikatan pada bentuk dan badan. Bagian Kelima Bagian ini yaitu Sema atau berputar. Terdiri dari empat salam. Pada penghujung masing-masing kembali pada keadaan bersiap, para penari menunjukkan persaksian atas kesatuan Tuhan. Salam pertama adalah kelahiran kesadaran dan rasa manusia atas kebenaran. Penerimaan yang utuh atas keberadaan tuhan sebagai pencipta dan diri manusia sebagai ciptaan. Salam kedua menggambarkan kelemahan manusia yang menyaksikan kemegahan penciptaan didepan keagungan tuhan dan kemurahanNya. Salam ketiga adalah tranformasi dri kelemahan menjadi cinta sehingga menjadikan akal tunduk pada cinta. Ini adalah bentuk utuh berserah diri, pemusnahan diri dalam zat yang dicinta, suatu peleburan. Bentuk ekstase ini dalam ajaran Islam adalah tingkat tertinggi yang disebut “Fanafillah”. Akan tetapi, derajat tertinggi dalam Islam adalah derajat Nabi Muhammad Sallallahu alayhi wasalam, yang lebih “layak” disebut sebagai hamba atau pelayan Tuhan, baru kemudian disebut sebagai utusan tuhan. Tujuan Tarian Sema bukanlah ekstase tak berujung dan hilangnya kesadaran pikiran. Pada masa penghentian salam ini, penari mengenali keberadaannya, tangan bersilang menunjukkan kesadaran dan kemengertian ke Maha Esa-an Tuhan. Salam keempat seperti sebagaimana Nabi saw sampai ke singgasana Arsy dan kemudian kembali ke bumi menjalankan tugasnya. Penari darwis mencapai kondisi “Fanafillah”, kembali dalam tugasnya sebagai ciptaan pada kondisi kehambaan setelah berakhirnya perjalanan spiritualnya. Dia menjadi pelayan Tuhan, kitab-kitabNya, para nabiNya dan pelayan bagi ciptaanNya. Bagian Keenam Bagian ini diakhiri dengan pembacaan Al Qur’an, khususnya Surat Al Baqarah ayat 115: “Dan milik Allah Timur dan Barat. Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha Luas, Maha Mengetahui’. Bagian Ketujuh Bagian ketujuh adalah doa untuk arwah para nabi dan mukminin. Wa min Allah at Tawfiq 
Post a comment