Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Posted on January 23rd, 2009 in please by lanjut-dong

Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi
(Alm. Chrisye)
(1949-2007) di majalah sastra HORISON.
Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA

TAUFIQ ISMAIL
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.
Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga
inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap
buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik
jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan
telepon
Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet.
Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin
baca Surah Yasin.

Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi,  A’udzubillahi
minasysyaithonirrojim.
“Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu
arjuluhum bimaa
kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup
mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka
akan bersaksi tentang apa yang telah
mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini
luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke
larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat
berbobot itu akan bisa masuk pas kedalamnya. Bismillah. Keragu-raguan
teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.
Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah
selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul
inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa
terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye
menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat
Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang
menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius
yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan
menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah
susah saya nyanyikan! Di kamar, saya
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir.
Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons
saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu
itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki
Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa
tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah.
Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya
mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia
menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi
ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah
ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat
mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis
dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah
karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh
lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah
senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan
saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari
terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak
Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan
saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga
selesai. Dan tidak ada take ulang!
Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya
lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya
dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya
ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang
pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar
meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama
menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan
saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian
mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan
Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua
baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton
menahan sedu
sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser
untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa
Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu
Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi
saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah
Yasin ayat 65, firman
Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,
tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.
“Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau
Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah,
mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya
pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album
soundtrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan
pengunjung masjid setia ini,
tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta
menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya.
Amin. #

http://www.youtube.com/watch?v=cNsURlMA-dg




Post a comment