asy syams (matahari)> kesaksian dari sebuah pilihan

Posted on December 21st, 2008 in Uncategorized by lanjut-dong

9- Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya.
Truly he succeeds that purifies it,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
10- Dan celakalah barangsiapa yang mengotorinya.
And he fails that corrupts it!
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
11- Telah mendustakan Tsamud, ter­sebab kesombongannya.
The Thamud (people) rejected (their prophet) through their inordinate wrong-doing,
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
12- Seketika telah bangkit orang yang paling celaka di antaranya.
Behold, the most wicked man among them was deputed (for impiety).
إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا
13- Lalu berkata Rasul Allah kepada mereka: “(Jagalah) unta Allah dan minumannya.”
But the Messenger of Allah said to them: “It is a She-camel of Allah. And (bar her not from) having her drink!”
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
14- Tetapi mereka dustakan dia, lalu mereka bunuh unta itu, maka Tuhan mereka pun mencurah­kan azab kepada mereka lantaran dosa mereka itu, hingga Dia rata­kan kebinasaan itu.
Then they rejected him (as a false prophet), and they hamstrung her. So their Lord, on account of their crime, obliterated their traces and made them equal (in destruction, high and low)!
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا

15- Maka tidaklah Dia menghiraukan akibat dari kesalahan mereka.
And for Him is no fear of its consequences.

وَلاَ يَخَافُ عُقْبَاهَا

ASY SYAMS (MATAHARI)

Posted on December 21st, 2008 in Uncategorized by lanjut-dong
1- Demi matahari dan cahaya siangnya.
By the Sun and his (glorious) splendour;
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
2- Demi bulan apabila dia meng­ikutinya.
By the Moon as she follows him;
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاَهَا

3- Demi siang apabila menampakkannya.
By the Day as it shows up (the Sun’s) glory;

وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاَّهَا
4- Demi malam apabila menutupinya.
By the Night as it conceals it;
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا

5- Demi langit dan apa yang mendirikannya.
By the Firmament and its (wonderful) structure;

وَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَا
6- Demi bumi dan apa yang menghamparkannya.
By the Earth and its (wide) expanse:
وَالأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا

7- Demi sesuatu diri dan apa yang menyempurnakannya.
By the Soul, and the proportion and order given to it;

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

8- Maka menunjukkanlah Dia ke­padanya akan kejahatannya dan kebaikannya.
And its enlightenment as to its wrong and its right;-

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Lukisan Indah Kebijaksanaan

Posted on December 20th, 2008 in Uncategorized by lanjut-dong

Gede Prama

Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini. Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya harapannya akan masa depan. Dan, saat tua tidak sedikit yang membanggakan masa lalu.

Keadaannya mirip kucing yang mengejar bayangannya sendiri. Pada pagi hari (masa muda) bayangannya ada di barat dikejar dan tidak ketemu. Pada sore hari (umur tua) bayangannya ada di timur, lagi-lagi dikejar juga tidak ketemu. Sadar bahaya ini, ada yang memotong lingkaran kegelapan dengan meyakini kehidupan berawal pada masa sekarang dan berakhir pada masa sekarang.

Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal, tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal untuk banyak membahagiakan orang.

Di Tibet, makhluk hidup diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi mother being. Terutama karena diyakini jika semua makhluk pernah menjadi Ibu kita pada masa lalu. Dengan demikian, bila rajin membahagiakan orang atau makhluk lain, kita juga sudah membahagiakan ibu. Selain itu, membahagiakan orang adalah salah satu persiapan terbaik menyongsong masa depan. Inilah transformasi spiritual, rasa bersalah akan masa lalu dan takut akan masa depan, diolah sekaligus dinikmati hari ini.

Guru sebagai cahaya

Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian (menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma, sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.

Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah spiritual berjumpa guru. Untuk itu, bagi orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi, perjumpaan dengan guru adalah berkah spiritual yang amat disyukuri. Segelintir sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan mendengar namanya sebagian ketakutan akan neraka langsung sirna.

Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintah-perintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri. Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang tersisa.

Kematian

Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan menjaga diri dengan etika. Praktik serius etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara banyak guru simbolik, kematian adalah guru simbolik paling agung.

Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: ”in order to die well, one must live well”. Agar matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup penuh cinta).

Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya.

Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur badan ke rumah aslinya. Unsur tanah kembali ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api kembali ke api, unsur udara kembali ke udara, unsur ruang kembali ke ruang. Dalam bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang ke rumah sesungguhnya).

Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah hati. Bukankah ketenangan dan kebajikan adalah teman paling berguna dalam kematian? Selain itu, kematian juga berubah wajah menjadi guru simbolik yang membimbing menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus mengemukakan l die every day.

Bila boleh jujur, tiap hari kita mengalami kematian. Seusai sarapan, kita berpisah dengan rasa enak (matinya rasa enak di mulut). Berangkat ke kantor, manusia berpisah dengan rasa nyaman di rumah (matinya rasa nyaman tinggal di rumah). Mengakhiri meditasi, meditator berpisah dengan keindahan konsentrasi (matinya kedamaian meditasi). Dalam wajahnya yang mendasar, kematian menakutkan karena ada perpisahan. Bila terbiasa dengan perpisahan sehari-hari, perpisahan melalui kematian akan menjadi suatu yang biasa.

Meminjam ajaran Tibetan book of the dead, wajah kematian terindah bertemu saat semua tahapan antara kematian dan kehidupan berikutnya (bardo) terlewati secara tenang-seimbang. Maka, disarankan untuk memperlakukan semua kejadian dalam hidup (dipuji-dicaci, sukses-gagal, meditasi sampai mimpi) sebagai bardo. Tidak ada apa- apa, yang menyenangkan maupun menakutkan hanya pancaran kesadaran murni. Sebagaimana dinyanyikan berulang-ulang oleh pertapa Milarepa: ”death is not a death for a yogi; it is a little enlightenment”. Dalam kehidupan pertapa, kematian muncul tanpa ditemani ketakutan, ia hanya sebuah pengalaman kecil pencerahan.

Inilah ujung terowongan kegelapan. Lalu muncul cahaya bimbingan. Kegagalan, ketakutan, bahkan kematian pun memancarkan sinar terang pengertian. Karena ketakutan akan kematian adalah ibu semua ketakutan, maka begitu ia lenyap, ketakutan lain pun sirna. Sebagai hasilnya, batin menjadi bersih dan jernih sempurna. Cirinya cara memandang, niat, kata-kata, perbuatan, sumber penghasilan, daya upaya, perhatian dan konsentrasi semua menjadi serba bijaksana. Kehidupan lalu berubah wajah menjadi lukisan indah kebijaksanaan. Gambarnya cinta, bingkainya keikhlasan.

Di Ubud Bali ada wanita bule yang tidak lagi muda tekun memelihara anjing-anjing liar tak bertuan. Kendati pengertiannya akan cinta tidak mendalam, dengan tekun ia melakukannya dalam waktu lama. Pengertian yang disertai keraguan kadang menjadi penghalang keikhlasan. Kehidupan wanita bule ini sedang menggoreskan tinta keindahan: cinta dan keikhlasan melukis kebijaksanaan.

Untuk mu sahabat

Posted on December 7th, 2008 in Uncategorized by lanjut-dong

Wahai.. sang bijaksana..

Hati ku yang mungil telah menjawab dengan lantang,

Dari kegelisahanku, keresahanku.

Ternyata aku belum mampu melepas kain yang kupakai,

Aku masih memakai kain yang lama..

Dari setiap waktu malam yang ku tutup,

Ku buka pagi dengan sambutan matahari..

Saat siang dia setia mengiringi,

Di waktu senja pergi dan menari di atas pelangi..

Ku hitung satu demi satu,

Dari kegagalan yang bersemayam dlm kehidupanku..

Dikala aku terjatuh, tangan mu menarik untuk ku bangun

Saat mimpi bagai cahaya yang tak ingin tunduk pada bayangan

Kini akulah pelayan yang akan setia menemanimu..

Dalam hitungan detik..

Dalam hitungan waktu kau toreh lidahku dengan tinta emas mu

Kau ukir wajahku bagai pualam hiasan rumah sulaiman

Kini ku persembahkan jiwa ragaku untuk mu

Wahai sang kekasih..

Untukmu pula wahai sahabat sejatiku..

Hidupku, matiku, aku peluruuntuk mu

Ooh.. untuk mu..

Bersama sahabat-sahabat mu pula

Nama mu akan menggema dari banyak orang

Dari.. Dan sampai tak terhitung..

Karena kau lah mutiara tak ternilai

Bagai langit biru tak berbingkai

Ooh.. Tuhan..

Aku tak ingin ini tak terjadi..

Ooh.. Tuhan..