Terima kasih Tuhan..
Karena ‘Mu.. aku Banyak sekali dapat pelajaran yang harus aku selesaikan.
Terima kasih Guruku ‘Kau alam yang setia menemaniku,sahabatku,Kekasih kecilku yang masih bersemayam
Kau sudah banyak memberi ku spirit yang harus aku selesaikan, Kau membuat supaya aku tidak menjadi orang lain.
Perlahan aku merasakan terbuka siapa diriku, kenapa aku begini, mengapa aku selalu bodoh dan kerdil bahkan bagaimana aku harus melakukannya.
Semua pertanyaan kutanyakan pada diriku satu persatu.. hingga sahabatku seperti menuntut aku harus mampu melakukan sesuatu dalam perubahan diriku, *dalam hati kecil.. ’sahabatku,mungkin kau tau saat ini aku menangis karena aku selalu bodoh dan belum mampu melepas baju yang ku kenakan. Ingin aku melepas baju dan telanjang untuk mencari lalu memakai baju yang baru tapi kenapa aku masih selalu tampil dengan baju yang lama..?
Seperti dalam sebuah bahasa yang pernaha ku dapat.. “Jika engkau bukan seorang pecinta, Maka Jangan pandang hidupmu adalah hidup, Karena burung kesadaran turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang 2 atau 3 hari. Mereka merupakan bintang bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi”. Kalo ga salah terjemahan Divani-shamz tabrizi dari puisi Mevlana el jalaludin rumi
Dan kadang seperti dalam sebuah kutipan lagu paul anka-MY WAY, ( *I’ve loved, I’ve laughed and cried… I’ve had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing… To think i did all that
And may I say, not in a shy way.. Oh,no.. Oh,no.. Not me..
I did it my way )
Kadang ada cinta yang membuat menjadi lucu jg.. jg dari sebuah pahitnya perjalanan hidup sampai seperti orang yang sdh tidak punya akal lagi harus melakukan apa hidupku ini.
Sampai akhirnya aku menyadari kalau hidup ini seperti panas matahari.. Bila kita berani dengan panas matahari jangan merasa takut hitam kulit kita.
Pada setiap kubuka waktu, ku renungi langkah untuk aku tidak mengejar fatamorgana..
ku belajar dari artikel2 kadang aku merasa “ah ini biasa..” Sampai akhirnya aku merasakan kalau aku harus mampu dengan langkahku sendiri”.
walau usia semakin dimakan waktu dari dewasanya waktu, aku percaya bila aku mati besok,aku selalu siap
Dan aku percaya karena dukungan moral tak pernah henti kudapat dari sahabat -sahabat sejatiku.
Hingga aku ingin menulis dengan lidah yang ku toreh tinta emas untuk ku lukis dinding rumahku,
Kutaruh wajahku di halaman rumah bagai batu pualam yang abadi,
Tanganku bagaikan kasih Isa yang sejati, Hatiku Sang Nabi yang mulia..
Oh jangan.. Jangan ini tak terjadi Tuhan karena aku tau… ‘Kau maha nyata Tuhan…’