- kisah pandawa 5 dan kurawa
Apa jadinya kalau dalang mbeling Sujiwo Tedjo ketemu dengan Gus Dur? Inilah yang terjadi pada acara wayangan yang diselenggarakan di Gedung MPR/DPR pada Agustus 2000. Selain Gus Dur, tampak hadir antara lain Ketua DPR Akbar Tandjung dan isteri, Permadi, Garin Nugroho, beberapa anggota DPR/MPR, dan sejumlah menteri.
Dalam acara wayangan lazimnya ki dalang sesekali mengajak penonton untuk ikut nimbrung dalam cerita. Cuma kali ini, penonton yang diajak nimbrung tak tanggung tanggung: seorang presiden. Begitulah, Ki Tedjo, mantan wartawan dan sarjana ITB yang berasal dari Situbondo (jadi satu "negara" dengan Gus Dur, sama-sama orang Jawa Timur) terus mengusik sang presiden dengan banyak pertanyaan yang dikaitkan dengan cerita yang sedang digelarnya.
"Menurut Anda, sebenarnya antara Kurawa dan Pandawa itu yang salah siapa sih?" tanya Tedjo. "Kok hampir tiap hari mereka bertengkar terus? Kok mereka itu enggak pernah bisa rukun? Yang salah itu sebenarnya siapa: Sengkuni, Kresna, atau Arjuna?"
"Yang salah itu konsepnya," jawab Gus Dur enteng, disambut tawa panjang penonton. "Lho, padahal konsep wayang kan sama saja, Gus?"
"Semua orang melihat Kurawa dan Pandawa itu secara hitam putih, seperti bandit dan koboi. Padahal mestinya tidak begitu," ucap Gus Dur.
"Kelompok Kurawa itu adalah orang-orang yang sedang melangkah menuju sikap seperti Pandawa itu. Maka sebenarnya dia bukan kalah. Kurawa berbuat macam-macam itu hanya karena belum matang jiwanya."
"Berarti Pandawa dan Kurawa itu harus dirangkul ya Gus?" tanya Tedjo lagi.
"Lha, inggih. Sebab, Kurawa itu bukan bandit." "Tapi Kurawa dijadikan bulan-bulanan hinaan terus." "Itulah salahnya," sahut Gus Dur lagi. "Kurawa itu calon Pandawa," tambah Gus Dur.
"Tapi, orang-orang ini aneh, bolak-balik keliru melulu. Dan yang paling keliru adalah dalangnya …"
"Wah, kalau begitu saya lebih baik pulang saja," ujar Ki Dalang Tedjo, pura-pura ngambek.
"Lho, susah-susah ditanggap kok mau pulang …
<gus dur>