tentang israel
Mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Ada alasan yang membuat saya mendukung Israel. Dan setelah anda membaca alasan saya ini, saya sangat yakin jika anda masih punya otak yang sehat, anda pasti juga akan berbalik mendukung Israel. Alasannya yaitu …
1. Secara bahasa Israel berasal dari dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)
2. Israel merupakan nama dari Nabiyullah Ya’qub alahisissalam
disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: “Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)
3. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyebut Israel pada orang-orang Yahudi.
Kita tidak mengingkari kalau orang Yahudi merupakan keturunan dari Israil alaihisalam sehingga mereka disebut juga Bani Israil. Tapi penyebutan mereka dengan Israel saja, tidak pernah dilakukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
4. Penamaan negara Yahudi dengan Israel merupakan bentuk makar mereka pada kaum muslimin
hingga kita lihat sekarang dimana-mana orang-orang mencela nama Israel, sperti ISRAEL MEMBANTAI KAUM MUSLIMIN, ISRAEL BIADAB, dan perkataan lain yang tidak pantas diucapkan kepada seorang Nabi yang mulia. Ini sengaja dilakukan Yahudi agar kaum muslimin mencela Nabi Ya’qub alaihissalam
5. Para ulama memperingatkan kita dari menyebut Yahudi dengan Israel
Seorang Ulama Besar dari Saudi Arabia yaitu Syekh Robi’ bin Hadi Al Madkholi mengatakan :
Sekali lagi … aku sangat heran, peletakan nama nabi yang mulia ini atas sebuah
negeri yang brengsek dan umat yang dimurkai dan umat yang membuat kedustaan,
dikatakan tentang mereka dan tentang berita mereka dan tentang celaan kepada
mereka “ Israel” dan “negeri Israel”, seakan-akan bahasa Arab yang luas telah
sempit bagi mereka sehingga tidak dijumpai dalam bahasa Arab kecuali nama ini!
Kemudian apakah mereka merenungi perkara ini di dalam diri-diri mereka. Apakah
perkara ini membuat keridhoan Alloh atau rosul-Nya?
Apakah perkara ini membuat keridhoan Nabiyullah Israel (Ya’qub) atau membuat
dia tidak suka seandainya dia hidup?
Tidaklah mereka mengetahui bahwasanya cercaan dan celaan yang mereka arahkan
kepada orang-orang Yahudi atas nama Israel akan berpaling menuju kepadanya
dalam keadaan mereka tidak merasakan ; dari Abu Hurairah bahwasanya Rasululloh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidaklah kalian heran bagaimana Alloh memalingkan aku dari cacian
orang-orang Quraisy dan laknat mereka, mereka mencaci seorang yang tercela
dalam keadaan aku adalah Muhammad (yang terpuji)” [Diriwayatkan oleh Ahmad
dalam Musnad-nya 2/244, Bukhari dalam shahih-nya : 3533, dan Nasa’i dalam
Sunan-nya 6/159, dan diriwayatkan juga oleh Humaidi dalam Musnad-nya 2/481 dan
Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/142]
Maka bagaimana kalian palingkan celaan kalian, laknat kalian dan cercaan kalian
terhadap musuh-musuh Alloh (lantas kalian arahkan) kepada sebuah nama nabi yang
mulia dari para anbiya dan para rosul manusia-manusia pilihan Alloh?!
Syekh Shalih Al Luhaidan ( Ketua Mahkamah Agung Saudi Arabia ) juga berkata
Saya tidak suka kalau disebut “Israil”, sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya’qub ‘alaihissalam.
Adapun mereka (yaitu Yahudi) adalah famili para babi dan monyet…
Setelah mengetahui penjelasan diatas, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk tidak menyebut Yahudi dengan sebutan Israel. Kita panggil mereka dengan Yahudi Saudaranya Kera dan Babi….
iseng browsing eh dpt ini.. lmayan buat tambahan
http://akuntansiku.wordpress.com/2009/01/11/mari-kita-dukung-israel/
Memang banyak orang yang ga tau, dari bendera israel itu. kita udah dibudakin nafsu dan sangat mudah di hasut.
Holocaust: Isapan Jempol Yahudi
Salah satu komponen dan unsur utama yang tak dapat dilupakan dalam cerita Holocaust adalah Kamp Konsentrasi. Menurut cerita orang-orang Yahudi (yang mengaku korban Holocaust) kamp-kamp konsentrasi itu penuh dengan ruang-ruang gas (ruang yang dipakai untuk membunuh Yahudi secara sistematis) dengan fasilitas super modern. Disana juga terdapat beberapa ruang krematorium untuk membakar mayat-mayat orang (Yahudi).
Namun terdapat keanehan dibalik kesaksian itu. Memang disana ada banyak ruang-ruang yang seakan-akan terlihat seperti ruang gas (gas chamber) namun ruang-ruang itu lebih mirip sebuah kamar mandi umum ketimbang ruang gas. Di ruang itu tidak ada bekas-bekas saluran gas, melainkan hanya saluran pipa air yang karatan. Hingga hari ini pun bila kita berkunjung ke Kamp Konsentrasi dan memasuki “ruang gas”, kita hanya akan disuguhi pemandangan “hambar”, yaitu hanya sebuah ruangan luas yang kosong (saya bilang lebih mirip kamar mandi) tanpa ada suatu hal pun yang aneh (lampu, gantungan handuk/baju, kran air, pipa ledeng karatan, dll). Bahkan si pemandu wisata pun tidak dapat menunjukkan instalasi-instalasi yang berhubungan dengan saluran/penyimpanan gas.
Berikut adalah kutipan yang saya ambil dari koran suara merdeka, selasa 1 Agustus 2006:
“Cendekiawan Perancis Robert Garaudy pernah dipenjara dan dijatuhi denda 40.000 dolar oleh pengadilan Paris berdasarkan pasal tersebut. Roger Garaudy diadili berdasarkan undang-undang Gayssot-Fabius Law yang melindungi orang-orang Yahudi. Berdasarkan undang-undang ini, setiap tindakan yang mengecilkan kekejian tentara Nazi Jerman terhadap kaum Yahudi, dikatagorikan sebagai kekejian anti kemanusiaan.
Roger Garaudy dalam bukunya The Founding Myths of Israeli Politics menuliskan fakta, bahwa segala kisah tentang pembunuhan kaum Yahudi oleh Nazi dalam jumlah besar, yaitu enam juta orang, adalah isapan jempol belaka dan bahkan Zionis dan Nazi bekerja sama untuk menciptakan kisah tragedi bangsa Yahudi untuk menarik simpati dunia agar menyetujui dibentuknya negara Israel.
Fakta dari para pakar kimia menunjukkan bahwa tempat-tempat yang digembar-gemborkan kepada masyarakat sebagai tungku pembakaran manusia, dengan menggunakan gas di era Hitler ternyata sama sekali tidak dapat digunakan sebagai tungku pemanggangan manusia. Karena berbagai percobaan dan ujian yang telah dilakukan terhadap contoh-contoh yang telah diambil tidak menunjukkan kebenaran hal tersebut. Kamp yang disebut-sebut sebagai tempat penyiksaan juga diragukan kebenarannya mengingat tingginya angka kelahiran dan sedikitnya angka kematian di kamp tersebut.
“Dalam buku saya, dengan berlandaskan pada tulisan-tulisan sejumlah besar cendekiawan dunia, termasuk penulis Rusia dan bahkan Yahudi, saya berhasil membuktikan bahwa jumlah orang Yahudi yang terbunuh dalam Perang Dunia II oleh tentara Nazi, kira-kira satu setengah hingga dua juta orang. Sedangkan pernyataan bahwa enam juta yang terbunuh, adalah tidak lebih dari membesar-besarkan saja, malahan boleh disebut sebagai tindakan apartheid atau rasialis.” tegas Geraudy.
Tokoh Perancis lain yang pernah dihukum atas penyangkalan Holocaust ini adalah Jean Marie Le Pen, Ketua Partai Nasionalis Perancis. Hal yang serupa juga berlaku di negara-negara Eropa lainnya seperti Wina Austria, dan Munich, Jerman.
Dengan berbagai upaya yang luas di berbagai negara, zionis berusaha untuk menghalangi dan mencegah terungkapnya kenyataan yang sesungguhnya mengenai pembantaian enam juta orang Yahudi di kamar-kamar gas Nazi. Tindakan keras yang ditunjukkan oleh zionis itu menunjukkan ketakutan mereka atas terungkapnya hasil-hasil penelitian ilmiah mengenai tragedi pembantaian orang-orang Yahudi dalam PD II. “
Dapat diketahui dari kutipan di atas bahwa, penelitian yang mendalam justru menunjukkan bahwa Holocaust tidak pernah terjadi atau kita ambil dari kata-kata presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad: “HOLOCAUST WAS A MYTH“.
Mayoritas orang Indonesia percaya bahwa Holocaust memang benar-benar terjadi. Hal ini karena mulai dari hiburan (film, buku bacaan, gambar) hingga bahan-bahan pelajaran kita selalu dijejali dengan mitos-mitos seputar pembantaian Yahudi oleh kaum NAZI. Sehingga kini kita menganggap bahwa kaum Yahudi memang kaum yang tertindas dan selalu hidup dalam bayang-bayang teror. Sudah ada berapa puluh film yang kita tonton yang menggambarkan kebengisan pasukan NAZI? Namun, adakah satu film saja yang menggambarkan kekejian pasukan Israel?
http://ajiedunkler87.wordpress.com/2006/10/06/holocaust-isapan-jempol-yahudi/
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi
(Alm. Chrisye)
(1949-2007) di majalah sastra HORISON.
Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA
TAUFIQ ISMAIL
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.
Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga
inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap
buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik
jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan
telepon
Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet.
Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin
baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi
minasysyaithonirrojim.
“Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu
arjuluhum bimaa
kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup
mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka
akan bersaksi tentang apa yang telah
mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini
luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke
larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat
berbobot itu akan bisa masuk pas kedalamnya. Bismillah. Keragu-raguan
teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.
Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah
selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul
inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa
terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye
menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat
Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang
menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius
yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan
menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah
susah saya nyanyikan! Di kamar, saya
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir.
Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons
saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu
itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki
Berkata.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa
tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah.
Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya
mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia
menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi
ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah
ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat
mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis
dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah
karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh
lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah
senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan
saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari
terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak
Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan
saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga
selesai. Dan tidak ada take ulang!
Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya
lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya
dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya
ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang
pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar
meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama
menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan
saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian
mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan
Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua
baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton
menahan sedu
sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser
untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa
Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu
Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi
saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah
Yasin ayat 65, firman
Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,
tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.
“Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau
Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah,
mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya
pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album
soundtrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan
pengunjung masjid setia ini,
tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta
menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya.
Amin. #
tari sema rumi
come,come whoever you are wonderer, idolater, fire worshiper, lover of leaving it doesn’t matter ours is not caravan of despair come, even you have broken your vow thousands time, comeyet again, come.. ( Mevlana Rumi )
Adab-Adab Dalam Tari Sema
Bagian Pertama Para penari Darwis mengenakan topi panjang Sikke yang melambangkan pusara atau batu nisan bagi egonya. Jubah putih atau disebut Tennure adalah kain kafan yang melepaskan tabir ego dari Jubah Hitam (Hirka) yang menyelimuti spiritualitasnya dalam mencapai kebenaran. Saat bersiap dan dalam gerakan berhenti, para penari memeluk dan menyilangkan tangannya, hal ini menggambarkan keesaan dan kesatuan Tuhan. Saat berputar tangannya direntangkan, tangan kanan menghadap ke atas besiap menerima kemurahan Tuhan. Tangan kirinya menghadap ke bawah beralih dari kanan ke kiri melalui jantung hidupnya. Hal ini menunjukkan bagaimana meneruskan nikmat spiritual dari Tuhan kepad manusia lain melalui ‘mata Tuhan”. Berputar dengan poros jantung dari kanan ke kiri, sang darwis memeluk seluruh umat manusia dan ciptaan dengan kasih sayang dan cinta. Ritual dimulai dengan sebuah eulogi “Nat-I Sarif” kepada Nabi, sebagai perwakilan cinta, dan nabi-nabi sebelum beliau. Memuji mereka berarti memuji Tuhan yang telah menciptakan mereka. Bagian Kedua Bagian kedua adalah suara genderang sebagai symbol perintah Tuhan pada makhlukNya. “Jadi, maka jadilah”, “Kun fa ya Kun” Bagian Ketiga Bagian ketiga adalah tambahan instrument “taksim” yang seakan berkata melalui “ney” seruling panjang khas pemusik rumi. Ini menunjukkan “Hembusan Nafas Kehidupan” pada semua mahluk. Itulah tiupan keTuhanan. Bagian Keempat Bagian keempat yaitu sambutan salam sesama darwis dan kondisi larut dalam putaran “Devr-i Veled” yang diiringi musik “peshrev”. Bagian ini menyimbolkan salut dan salam antar jiwa yang lepas dari keterikatan pada bentuk dan badan. Bagian Kelima Bagian ini yaitu Sema atau berputar. Terdiri dari empat salam. Pada penghujung masing-masing kembali pada keadaan bersiap, para penari menunjukkan persaksian atas kesatuan Tuhan. Salam pertama adalah kelahiran kesadaran dan rasa manusia atas kebenaran. Penerimaan yang utuh atas keberadaan tuhan sebagai pencipta dan diri manusia sebagai ciptaan. Salam kedua menggambarkan kelemahan manusia yang menyaksikan kemegahan penciptaan didepan keagungan tuhan dan kemurahanNya. Salam ketiga adalah tranformasi dri kelemahan menjadi cinta sehingga menjadikan akal tunduk pada cinta. Ini adalah bentuk utuh berserah diri, pemusnahan diri dalam zat yang dicinta, suatu peleburan. Bentuk ekstase ini dalam ajaran Islam adalah tingkat tertinggi yang disebut “Fanafillah”. Akan tetapi, derajat tertinggi dalam Islam adalah derajat Nabi Muhammad Sallallahu alayhi wasalam, yang lebih “layak” disebut sebagai hamba atau pelayan Tuhan, baru kemudian disebut sebagai utusan tuhan. Tujuan Tarian Sema bukanlah ekstase tak berujung dan hilangnya kesadaran pikiran. Pada masa penghentian salam ini, penari mengenali keberadaannya, tangan bersilang menunjukkan kesadaran dan kemengertian ke Maha Esa-an Tuhan. Salam keempat seperti sebagaimana Nabi saw sampai ke singgasana Arsy dan kemudian kembali ke bumi menjalankan tugasnya. Penari darwis mencapai kondisi “Fanafillah”, kembali dalam tugasnya sebagai ciptaan pada kondisi kehambaan setelah berakhirnya perjalanan spiritualnya. Dia menjadi pelayan Tuhan, kitab-kitabNya, para nabiNya dan pelayan bagi ciptaanNya. Bagian Keenam Bagian ini diakhiri dengan pembacaan Al Qur’an, khususnya Surat Al Baqarah ayat 115: “Dan milik Allah Timur dan Barat. Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha Luas, Maha Mengetahui’. Bagian Ketujuh Bagian ketujuh adalah doa untuk arwah para nabi dan mukminin. Wa min Allah at Tawfiq 
sebuah filosopi dalam kehidupan
Sebuah filosopi telah menggambarkan kita bentuk pada kehidupan, yang di balik bentuk itu tersembunyi sebuah makna. Kadang aku pun masih bodoh,masih belum mampu menyelami sebuah bentuk kehidupan yang terus berjalan. Semakin lama aku merasakan banyak orang yang bertitle/punya background pendidikan tinggi tapi masih berpikir dengan sebuah emosional.Tanpa mengetahui bagaimana kita berupaya mengekpresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya, membuat kita menjadi pribadi yang disegani.
Bahkan tidak sedikit orang yang ingin menjadi orang lain,masih banyak yang nyaman dengan topengnya. Kalau kita bisa melihat dan memahami (mungkin aku sendiri masih terus belajar) bagaimana hal kecil bisa menjadi besar. Dalam arti kata, bisakah kita melakukan dari hal yang kecil di hadapan kita, sebelum melakukan yang besar…? Kadang aku sendiripun selalu menyepelekan hal yang kecil.Kini aku sadar hal kecil yang disepelekan itulah akan menjadi besar dan membentuk sebuah masalah.
Sebuah tanggung jawab dalam hidup memang harus berani dilakukan, Karena sebelum melakukan untuk orang lain bisakah kita melakukan untuk diri sendiri..? Contoh sebuah kertas yang dilipat, kita melipat asal dan bisakah kita tau tebalnya lipatan itu..? Dari bentuk inilah terlihat sebuah filosopi kertas yang dilipat. Ada lagi seperti pohon bambu, kenapa jarak 3 tahun aja pohon bambu masi belum tumbuh tunas.. Dari pohon bambu aja banyak terlihat sebuah gambaran, diantaranya : Kalau mau menjadi orang hebat dan besar, kamu harus membangun pondasinya lebih dulu dengan sabar dan jangan mengeluh. Namun, orang cenderung males berproses, apalagi kalau proses itu sarat dengan kerja keras, keringat, dan penderitaan. Intinya “Tidak ada kesuksesan sejati yang gratis”.
Bambu pun tahan di dalam perbedaan cuaca, seperti suatu iklim tidaklah penting dalam bambu melakukan pertahanan hidup.Orang sekarang lebih senang dengan sebuah bentuk latar belakang atau memiliki background tapi tanpa disadari suatu saat nanti bisakah dia hidup tanpa atau sudah kehilangan background nya..?
Jarang, kita menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap kokoh tak bergeming. Selain karena akarnya yang kuat, juga batangnya yang bergoyang bersama angin. Akibatnya, dalam cuaca dan angin kencang, pohon bambu bergoyang dan mengeluarkan desis suara, mengikuti irama angin. Tapi, tidak pernah tumbang. Sementara itu, pohon-pohon lain dengan batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin. Inilah yang saya sebut dengan fleksibilitas. Pelajarannya? Kita perlu fleksibel dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Dengan begitu, kita tetap akan hidup dan berjaya.
Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”. Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi “V”
Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi burung yang terbang tepat dibelakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarang terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.
artinya dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi akan menghasilakan buah yang maksimal dari sebuah kerja sama mencapai tujuan kita dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena kita menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.
Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya. akan tetapi Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.
Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.
Dan masih banyak lagi sebuah filosopi yang lain seperti Telur, merpati, Elang dan lain-lain. Tinggal tergantung dari kitanya sendiri, mampukah kita memahami suatu makna dari bentuk kehidupan yang ada di hadapan kita. Kalau kita sudah mampu dan sudah siap bearti kita sudah tidak merasa takut lagi pada kehidupan yang akan terjadi.
asy syams (matahari)> kesaksian dari sebuah pilihan
|
9- Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya. |
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا |
| 10- Dan celakalah barangsiapa yang mengotorinya. And he fails that corrupts it! |
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا |
| 11- Telah mendustakan Tsamud, tersebab kesombongannya. The Thamud (people) rejected (their prophet) through their inordinate wrong-doing, |
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا |
| 12- Seketika telah bangkit orang yang paling celaka di antaranya. Behold, the most wicked man among them was deputed (for impiety). |
إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا |
| 13- Lalu berkata Rasul Allah kepada mereka: “(Jagalah) unta Allah dan minumannya.” But the Messenger of Allah said to them: “It is a She-camel of Allah. And (bar her not from) having her drink!” |
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا |
| 14- Tetapi mereka dustakan dia, lalu mereka bunuh unta itu, maka Tuhan mereka pun mencurahkan azab kepada mereka lantaran dosa mereka itu, hingga Dia ratakan kebinasaan itu. Then they rejected him (as a false prophet), and they hamstrung her. So their Lord, on account of their crime, obliterated their traces and made them equal (in destruction, high and low)! |
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا |
|
15- Maka tidaklah Dia menghiraukan akibat dari kesalahan mereka. |
وَلاَ يَخَافُ عُقْبَاهَا |
ASY SYAMS (MATAHARI)
| 1- Demi matahari dan cahaya siangnya. By the Sun and his (glorious) splendour; |
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا |
| 2- Demi bulan apabila dia mengikutinya. By the Moon as she follows him; |
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاَهَا |
|
3- Demi siang apabila menampakkannya. |
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاَّهَا |
| 4- Demi malam apabila menutupinya. By the Night as it conceals it; |
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا |
|
5- Demi langit dan apa yang mendirikannya. |
وَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَا |
| 6- Demi bumi dan apa yang menghamparkannya. By the Earth and its (wide) expanse: |
وَالأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا |
|
7- Demi sesuatu diri dan apa yang menyempurnakannya. |
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا |
|
8- Maka menunjukkanlah Dia kepadanya akan kejahatannya dan kebaikannya. |
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا |
Lukisan Indah Kebijaksanaan
Gede Prama
Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini. Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya harapannya akan masa depan. Dan, saat tua tidak sedikit yang membanggakan masa lalu.
Keadaannya mirip kucing yang mengejar bayangannya sendiri. Pada pagi hari (masa muda) bayangannya ada di barat dikejar dan tidak ketemu. Pada sore hari (umur tua) bayangannya ada di timur, lagi-lagi dikejar juga tidak ketemu. Sadar bahaya ini, ada yang memotong lingkaran kegelapan dengan meyakini kehidupan berawal pada masa sekarang dan berakhir pada masa sekarang.
Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal, tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal untuk banyak membahagiakan orang.
Di Tibet, makhluk hidup diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi mother being. Terutama karena diyakini jika semua makhluk pernah menjadi Ibu kita pada masa lalu. Dengan demikian, bila rajin membahagiakan orang atau makhluk lain, kita juga sudah membahagiakan ibu. Selain itu, membahagiakan orang adalah salah satu persiapan terbaik menyongsong masa depan. Inilah transformasi spiritual, rasa bersalah akan masa lalu dan takut akan masa depan, diolah sekaligus dinikmati hari ini.
Guru sebagai cahaya
Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian (menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma, sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.
Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah spiritual berjumpa guru. Untuk itu, bagi orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi, perjumpaan dengan guru adalah berkah spiritual yang amat disyukuri. Segelintir sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan mendengar namanya sebagian ketakutan akan neraka langsung sirna.
Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintah-perintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri. Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang tersisa.
Kematian
Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan menjaga diri dengan etika. Praktik serius etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara banyak guru simbolik, kematian adalah guru simbolik paling agung.
Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: ”in order to die well, one must live well”. Agar matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup penuh cinta).
Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya.
Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur badan ke rumah aslinya. Unsur tanah kembali ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api kembali ke api, unsur udara kembali ke udara, unsur ruang kembali ke ruang. Dalam bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang ke rumah sesungguhnya).
Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah hati. Bukankah ketenangan dan kebajikan adalah teman paling berguna dalam kematian? Selain itu, kematian juga berubah wajah menjadi guru simbolik yang membimbing menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus mengemukakan l die every day.
Bila boleh jujur, tiap hari kita mengalami kematian. Seusai sarapan, kita berpisah dengan rasa enak (matinya rasa enak di mulut). Berangkat ke kantor, manusia berpisah dengan rasa nyaman di rumah (matinya rasa nyaman tinggal di rumah). Mengakhiri meditasi, meditator berpisah dengan keindahan konsentrasi (matinya kedamaian meditasi). Dalam wajahnya yang mendasar, kematian menakutkan karena ada perpisahan. Bila terbiasa dengan perpisahan sehari-hari, perpisahan melalui kematian akan menjadi suatu yang biasa.
Meminjam ajaran Tibetan book of the dead, wajah kematian terindah bertemu saat semua tahapan antara kematian dan kehidupan berikutnya (bardo) terlewati secara tenang-seimbang. Maka, disarankan untuk memperlakukan semua kejadian dalam hidup (dipuji-dicaci, sukses-gagal, meditasi sampai mimpi) sebagai bardo. Tidak ada apa- apa, yang menyenangkan maupun menakutkan hanya pancaran kesadaran murni. Sebagaimana dinyanyikan berulang-ulang oleh pertapa Milarepa: ”death is not a death for a yogi; it is a little enlightenment”. Dalam kehidupan pertapa, kematian muncul tanpa ditemani ketakutan, ia hanya sebuah pengalaman kecil pencerahan.
Inilah ujung terowongan kegelapan. Lalu muncul cahaya bimbingan. Kegagalan, ketakutan, bahkan kematian pun memancarkan sinar terang pengertian. Karena ketakutan akan kematian adalah ibu semua ketakutan, maka begitu ia lenyap, ketakutan lain pun sirna. Sebagai hasilnya, batin menjadi bersih dan jernih sempurna. Cirinya cara memandang, niat, kata-kata, perbuatan, sumber penghasilan, daya upaya, perhatian dan konsentrasi semua menjadi serba bijaksana. Kehidupan lalu berubah wajah menjadi lukisan indah kebijaksanaan. Gambarnya cinta, bingkainya keikhlasan.
Di Ubud Bali ada wanita bule yang tidak lagi muda tekun memelihara anjing-anjing liar tak bertuan. Kendati pengertiannya akan cinta tidak mendalam, dengan tekun ia melakukannya dalam waktu lama. Pengertian yang disertai keraguan kadang menjadi penghalang keikhlasan. Kehidupan wanita bule ini sedang menggoreskan tinta keindahan: cinta dan keikhlasan melukis kebijaksanaan.
Untuk mu sahabat
Wahai.. sang bijaksana..
Hati ku yang mungil telah menjawab dengan lantang,
Dari kegelisahanku, keresahanku.
Ternyata aku belum mampu melepas kain yang kupakai,
Aku masih memakai kain yang lama..
Dari setiap waktu malam yang ku tutup,
Ku buka pagi dengan sambutan matahari..
Saat siang dia setia mengiringi,
Di waktu senja pergi dan menari di atas pelangi..
Ku hitung satu demi satu,
Dari kegagalan yang bersemayam dlm kehidupanku..
Dikala aku terjatuh, tangan mu menarik untuk ku bangun
Saat mimpi bagai cahaya yang tak ingin tunduk pada bayangan
Kini akulah pelayan yang akan setia menemanimu..
Dalam hitungan detik..
Dalam hitungan waktu kau toreh lidahku dengan tinta emas mu
Kau ukir wajahku bagai pualam hiasan rumah sulaiman
Kini ku persembahkan jiwa ragaku untuk mu
Wahai sang kekasih..
Untukmu pula wahai sahabat sejatiku..
Hidupku, matiku, aku peluruuntuk mu
Ooh.. untuk mu..
Bersama sahabat-sahabat mu pula
Nama mu akan menggema dari banyak orang
Dari.. Dan sampai tak terhitung..
Karena kau lah mutiara tak ternilai
Bagai langit biru tak berbingkai
Ooh.. Tuhan..
Aku tak ingin ini tak terjadi..
Ooh.. Tuhan..


